SUDUT

22 05 2010

Dalam pengukuran tanah sudut merupakan hal yang sangat penting yang mana sudut-sudut yang diukur dalam pengukuran tanah digolongkan sebagai horizontal dan Vertikal,tergantung pada bidang datar dimana sudut diukur.Sudut horizontal adalah pengukuran dasar yang diperlukan untuk penentuan sudut arah dan azimuth.

Untuk menentukan nilai sudut dapat diukur langsung dilapangan dengan kompas,teodolit kompas,teodolit atau sextanSudutdapat dibentuk tanpa pengukuran pada bidang planset.

Ada tiga persyaratan dasar dalam menentukan sebuah sudut yaitu:

1.Garis awal atau acuan

2.Arah perputaran

3.Jarak sudut

Namun pada sudut juga mempunyai satuan-satuan pengukuran sudut yang mana satuan yang semata-mata dapat dipilih sendiri menentukan harga sebuah sudut.Sistem sexagesimal yang dipakai di Amerika Serikat dan banyak Negara lainnya berdasarkan derajat,menit dan sekon.

JENIS-JENIS SUDUT

Jenis sudut yang yang paling dikenal  adalah SUDUT HORIZONTAL dan SUDUT VERTIKAL namun ada jenis lainnya.

SUDUT HORIZONTAL

Jenis-jenis sudut horizontal yang paling biasa diukur dalam pengukuran tanag adalah:

a.Sudut dalam

b.Sudut kekanan

c.Sudut belokan

selain itu ada hal lain yang diperlukan dalam pengukuran sudut yaitu arah sebuah garis yang mana Arah sebuah garis adalah sudut horizontal antara garis itu dan sebuah garis acauan yang dipilih tertentu disebut meridian.Meridian-meridian yang dipakai berbeda-beda.Meridian astronomic adalah garis acuan utara-selatan melalui kutub-kutub geografik bumi.Meridian magnetic ditentukan dengan jarum magnit bergerak bebas yang hanya terpengaruhi oleh bidang magnetic bumi.Kutub magnet adalah pusat konvergensi meridian magnetic.

SUDUT ARAH

Sudut arah merupakan satu system penentuan arah garis dengan memakai sebuah sudut dan huruf-huruf kuadran.Sudut arah sebuag garis adalah sudut lancip horizontal antara sebuah meridian acuan dan sebuah garis.Sudut diukur dari utara maupun selatan kearah timur atau barat untuk menghasilkan sudut kurang dari 90 derajat

AZIMUTH

Azimuth adalah sudut yang diukur searah jarum jam dari sembarang meridian acuan.Dalam pengukuran tanah datar,azimuth biasanya diukur dari utara,tetapi para ahli astronomi,militer dan National Geodetics Survey memakai selatan sebagai arah acuan

SUDUT VERTIKAL

Sudut Vertikal adalah selisih antara dua garis berpotongan dibidang vertical.Seperti yang biasa dipakai dalam pengukuran tanah,sudut itu adalah sudut yang berada diatas atau dibawah bidang horizontal yang melalui titik pengamatan.Sudut diatas bidang horizontal disebut sudut plus atau sudut elevasi. Sudut dibawah bidang horizontal disebut sudut mins atau sudut junam(depresi).Sudut vertical diukur dalam sipat datar trigonometric dan dalam EDM serta pekerjaan tacimertik sebagai sebuah bagian penting dari prosedur lapangan.

Untuk mengukur sudut vertical dengan transit,instrument dipasang pada titiknya dan didatarkan dengan cermat.Gelembung dalam tabung nivo teropong harus tetap seimbang bila teropong dikunci pada kedudukan horizontal dan diputar 360 derajat mengelilingi sumbu I.Jika nonius pada bussur vertical tidak terbaca 0 derajat 00 menit bila nivo seimbang,maka ada galat indeks yang harus ditambahkan pada atau dikurangkan dari semua pembacaan.Kekacauan tanda dihilangkan dengan menempatka dalam catatan lapangan.

Pada Teodolit dirancang sedemikian rupa sehingga pembacaan lingkaran vertical menghasilkan sudut Zenit.Jadi jika pembacaan 0 derajat beratri teropon terarah vertical (kearah zenith).Dalam kedudukan hadap kiri,dengan teropong horizontal,pembacaan adalah 90 derajat,dan bila teropong diberi elevasi 30 derajat diatas horizontal,pembacaan adalah 60 derajat.Dalam hadap kanan,pembacaan horizontal adalah 270 derajat dan bila teropong dinaikkan 30 derajat diatas horizon,pembacaannya adalah 300 derajat.

Iklan




Mitigasi Bencana

19 01 2010

Bencana adalah suatu kecelakaan tak diduga sebagai hasil dari faktor buatan manusia atau alami (atau suatu kombinasi kedua-duanya) yang mempunyai berdampak negatif pada kondisi kehidupan manusia dan flora/fauna .

Jenis bencana:

Bencana alam meliputi banjir, musim kering berkepanjangan, gempa bumi, gelombang tsunami, angin puyuh, angin topan, tanah longsor, letusan gunung berapi (vulkanis) dan lain lain.bencana Buatan manusia dapat meliputi radiasi akibat kecelakaan bahan kimia, minyak tumpah, kebakaran hutan dan lain lain (Srinivas, 1996).

Untuk menangani masalah bencana maka dikenal dengan penanggulangan bencana, yaitu suatu siklus kegiatan yang saling berkaitan mulai dari kegiatan pencegahan, kegiatan mitigasi, kegiatan kesiapsiagaan, kegiatan tanggap darurat, kegiatan pemulihan yang meliputi restorasi, rehabilitasi dan rekonstruksi, dan kegiatan pembangunan. Semua kegiatan, mulai dari tanggap darurat sampai pengumpulan data dan informasi serta pembangunan, merupakan rangkaian dalam menghadapi kemungkinan bencana.

Mitigasi bencana merupakan kegiatan yang sangat penting dalam penanggulangan bencana, karena kegiatan ini merupakan kegiatan sebelum terjadinya bencana yang dimaksudkan untuk mengantisipasi agar dampak yang ditimbulkan dapat dikurangi.

Mitigasi bencana alam dilakukan secara truktural dan non struktural. Secara struktural yaitu dengan melakukan upaya teknis, baik secara alami maupun buatan mengenai sarana dan prasarana mitigasi. Secara non struktural adalah upaya non teknis yang menyangkut penyesuaian dan pengaturan tentang kegiatan manusia agar sejalan dan sesuai dengan upaya mitigasi struktural maupun upaya lainnya.

Untuk mengatasi masalah bencana perlu dilakukan upaya mitigasi yang komprehensif yaitu kombinasi upaya struktur (pembuatan prasarana dan sarana pengendali) dan non struktur yang pelaksanaannya harus melibatkan instansi terkait. Seberapa besarpun upaya tersebut tidak akan dapat membebaskan terhadap masalah bencana alam secara mutlak. Oleh karena itu kunci keberhasilan sebenarnya adalah keharmonisan antara manusia/masyarakat dengan alam lingkungannya (Pratikto, 2005).

Kata “mitigasi” secara bahasa dapat diterjemahkan sebagai berikut:

  1. tindakan yang dilakukan sedemikian rupa sehingga menyebabkan suatu bentuk keadaan yang salah terlihat lebih serius
  2. suatu bagian dari alasan untuk mengurangi celaan; suatu usaha untuk menghadirkan suatu keadaan yang salah lebih sedikit serius dibanding yang nampak pada kenyataan yang ada dengan menampilkan usaha mengurangi keadaan yang salah tersebut

[http://www.w3c.org/TR/1999/REC-html401-19991224/loose.dtd]

Adapun definisi mitigasi menurut modul: Mitigasi Bencana Edisi Kedua, Program Pelatihan Manajemen Bencana UNDP (Coburn, A.W, R. J. S. Spence, N. Pomonis, 1994) adalah sebagai berikut:

Mitigasi berarti mengambil tindakan-tindakan untuk mengurangi pengaruh-pengaruh dari satu bahaya sebelum bencana itu terjadi. Istilah mitigasi berlaku untuk cakupan yang luas dari aktivitas-aktivitas dan tindakan-tindakan perlindungan yang mungkin diawali, dari yang fisik, seperti membangun bangunan-bangunan yang lebih kuat, sampai dengan prosedural, seperti teknik-teknik yang baku untuk menggabungkan penilaian bahaya di dalam rencana penggunaan lahan.

Satu analogi yang bermanfaat dengan ilmu pengetahuan yang berkembang dari mitigasi bencana adalah pelaksanaan tindakan-tindakan kesehatan umum yang mulai pada pertengahan abad 19. sebelum waktu itu, tuberkulosis, tipus, kolera, disentri, cacar dan banyak penyakit lain adalah penyebab utama kematian dan cenderung menganggap epidemi semakin meningkat sejalan dengan pembangunan industri dari kota-kota yang memicu meningkatnya konsentrasi-konsentrasi populasi. Penyakit-penyakit ini mempunyai pengaruh besar tehadap harapan hidup pada waktu itu tetapi dianggap sebagai bagian dari resiko hidup sehari-hari. Ketidakteraturan yang tidak kentara dari serangan penyakit tersebut menyerang dan tidak dapatnya penyakit tersebut ditebak berarti bahwa takhayul, mitologi dan sejumlah fatalisme tertentu hanyalah respon publik terhadap bencana-bencana: resiko yang tinggi dari penyakit umumnya diterima saja karena hanya ada sedikit alternatif.

Pada saat pemahaman dari apa yang menyebabkan timbuknya penyakit semakin meningkat, terutama lewat upaya-upaya dari ilmuwan dan parah ahli epidemologi pada abad 19, maka insiden epidemi dan penyakit biasanya menjadi mudah dipahami. Dengan adanya sanitasi untuk menanggulangi bahaya penyakit yang disebabkan oleh lingkungan yang kotor. Menjadi jelas bahwa penyakit dapat dicegah dan secara berangsur-angsur konsep perlindungan umum terhadap penyakit menjadi dapat diterima hal ini disebut dengan revolusi sanitari.

Bencana-bencana saat ini dilihat dalam cara yang sama sebagai mana penyakit dilihat pada awal abad 19; tidak dapat ditebak, musibah dan bagian dari resiko hidup seharihari. Konsentrasi-konsentrasi orang dan tingkat populasi yang semakin meningkat di seluruh dunia ini meningkat pula resiko bencana dan melipatgandakan konsekuensi-konsekuensi bahaya alam ketika bahaya-bahaya itu muncul. Sehingga muncul konsep mitigasi bencana revolusi sanitari untuk mengurangi dampak resiko dari suatu bencana alam.

Bagian paling kritis dari pelaksanaan mitigasi adalah pemahaman penuh sifat bencana. Tipe-tipe bahaya bencana pada setiap daerah berbeda-beda, ada suatu daerah yang rentan terhadap banjir, ada yang rentan terhadap gempa bumi, ada pula daerah yang rentan terhadap longsor dan lain-lain.

Pemahaman bahaya-bahaya mencakup memahami tentang:

–          bagaimana bahaya-bahaya itu muncul

–          kemungkinan terjadi dan besarannya

–          mekanisme fisik kerusakan

–          elemen-elemen dan aktivitas-aktivitas yang paling rentan terhadap pengaruh-pengaruhnya

–          konsekuensi-konsekuensi kerusakan.

Informasi Geospasial sebagai faktor kunci dalam melakukan pertukaran informasi secara global, merupakan suatu sarana fital bagi berlangsungnya suatu tatanan masyarakat berwawasan iptek dengan kekayaan sumberdaya alam yang sangat besar.

Data & Informasi geospasial tentang kebencanaan dan kedaruratan, dibutuhkan oleh lokasi kejadian bisa didapat melalui sistem koordinasi yang terpadu, cepat, dan akurat.

Data & informasi yang dibutuhkan meliputi :

–    titik-titik lokasi dimana bencana terjadi

–  seberapa besar bencana terjadi: luas area, besar bencana, periode berlangsungnya,       lamanya, dll

–    berapa besar jumlah korban jiwa : luka-luka, meninggal

–    berapa jumlah kerugian : fisik, materi, dll

Data & informasi akan digunakan di dalam menentukan kebijakan: pencegahan, penanggulangan, penanganan, evaluasi, serta rehabilitasi (Hudawati,2003).

Makalah TA Ihwan Fauji (IMG-01)