Direktorat Pengukuran Dasar

6 05 2010

Pembuatan peta haruslah diikatkan pada suatu koordinat tertentu. Di lingkungan Badan Pertanahan Nasional, peta-peta yang dibuat diikatkan pada Titik Dasar Teknik. Pembuatan Titik Dasar Teknik ini dilakukan oleh Direktorat Pengukuran Dasar. Hasil pemasangan Titik Dasar Teknik yang dilakukan oleh Direktorat Pengukuran Dasar nantinya akan berfungsi dan dipakai oleh direktorat-direktorat lain di lingkungan Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia.

3.1Pengertian Pengukuran

Pengukuran adalah penentuan besaran, dimensi atau kapasitas, biasanya terhadap suatu standar atau satuan pengukuran. Pengukuran tidak hanya terbatas pada kuantitas fisik, tetapi juga dapat diperluas untuk mengukur hampir semua benda yang bisa dibayangkan, seperti tingkat ketidakpastian, atau kepercayaan konsumen. (Wikipedia).

Pengukuran adalah proses atau cara yang hasilnya menunjukkan besar satuan suatu benda. (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Pengukuran adalah kegiatan yang diperlukan untuk mendefinisikan suatu obyek dalam besaran atau satuan unit tertentu.

3.2Tujuan Pengukuran

Kegiatan pengukuran bertujuan untuk mendefinisikan suatu obyek dalam besaran atau satuan unit tertentu.

3.3Dasar Hukum Pengukuran Dasar

Beberapa landasan hukum mengenai Pengukuran Dasar yaitu :

1.  Pasal 19 Undang-undang No 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA).

2.  Peraturan Pemerintah No 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.

3.  Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional No 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah Pasal 2 sampai dengan Pasal 11.

3.4 Kerangka Dasar Kadaster Nasional

Badan Pertanahan Nasional (BPN) mulai tahun 1996 menetapkan penggunaan DGN-95 sebagai datum rujukan pengukuran dan pemetaan di lingkungan BPN dengan pewujudannya berupa pengadaan Jaring Kontrol Geodesi Nasional Orde 2, Orde 3 dan Orde 4. Jaring kerangka dasar yang ditetapkan oleh BPN ini disebut juga Jaring Kerangka Dasar Kadaster Nasional.

Kerapatan titik-titik JKGN Orde 2 ± 10 km dan ± 1 – 2 km untuk JKGN orde 3. Kedua kelas JKGN BPN ini diukur dengan menggunakan teknik GPS, diikatkan dan diperiksa hasil ukurannya ke titik-titik JKGN Bakosurtanal Orde 0 dan 1. Posisi horizontal (X,Y) JKGN BPN dalam bidang datar dinyatakan dalam sistem proyeksi peta TM-3, yaitu sistem proyeksi transverse mercator dengan lebar zone 3. Khusus untuk JKGN BPN Orde 4, dengan kerapatan hingga 150 m, pengukurannya dilakukan dengan cara poligon yang terikat dan terperiksa pada JKGN BPN Orde 3 serta hitungan perataannya menggunakan cara Bowditch.

3.5 Kegiatan Pokok Pengukuran Dasar

  1. Pemasangan Titik Dasar Teknik

Titik dasar teknik adalah titik yang mempunyai koordinat yang diperoleh dari suatu pengukuran dan perhitungan dalam suatu sistem tertentu yang berfungsi sebagai titik kontrol atau titik ikat untuk keperluan pengukuran dan rekonstruksi batas (Pasal 1 angka 13 Paraturan Pemerintah No 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah). Titik dasar teknik diklasifikasikan menurut tingkat kerapatannya yaitu titik dasar teknik orde 0, titik dasar teknik orde 1, titik dasar teknik orde 2, titik dasar teknik orde 3, titik dasar teknik orde 4 dan titik dasar teknik perapatan. Dalam hal ini yang menjadi Tupoksi dari Direktorat Pengukuran Dasar adalah titik dasar teknik Orde 2, Orde 3 dan Orde 4. Titik Dasar Teknik ini diwakili dengan adanya tugu di lapangan.

  1. Mengukur Titik Dasar Teknik

Pengukuran titik dasar teknik orde 2 dilaksanakan dengan kerapatan ± 10 kilometer. Pengukuran titik dasar teknik orde 3 dilaksanakan dengan kerapatan 1-2 kilometer. Titik dasar teknik orde 4 merupakan titik dasar teknik dengan kerapatan hingga 150 meter. Titik dasar teknik perapatan merupakan hasil perapatan titik dasar teknik orde 4. Pengukuran titik dasar teknik orde 2  dilaksanakan dalam sistem koordinat nasional dengan mengikatkan ke titik-titik dasar orde 0  dan orde 1 yang dibangun oleh Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan nasional.

Pengukuran titik dasar teknik orde 3 dilaksanakan dalam sistem koordinat nasional dengan mengikatkan ke titik-titik dasar teknik orde 2. Pengukuran titik dasar teknik orde 4 pada prinsipnya dilaksanakan dalam  sistem  koordinat nasional dengan mengikatkan ke titik-titik dasar teknik orde 3. Apabila tidak memungkinkan, pengukuran titik dasar  teknik orde 4 dapat dilaksanakan dalam sistem koordinat lokal dimana dikemudian hari harus ditransformasi ke dalam sitem koordinat nasional.

Titik dasar teknik dengan orde 2,3,4 disebut titik dasar teknik nasional, sedangkan titik dasar teknik Orde 4 apabila belum ditransformasi ke dalam koordinat sistem koordinat nasional disebut titik dasar teknik lokal.

Pengukuran titik dasar teknik orde 2, orde 3, dan orde 4 dilaksanakan dengan menggunakan metoda pengamatan satelit atau metoda lainnya.

3.6Produk Pengukuran Dasar

  1. Tugu

Tugu merupakan bangunan yang dibuat untuk mewakili suatu Titik Dasar Teknik di lapangan. Titik dasar teknik orde 2 dibuat dengan konstruksi beton dari campuran semen, pasir dan kerikil dengan perbandingan 1 : 2 : 3 dengan diameter tulang besi 12 mm, yang besarnya sekurang-kurangnya 0,35 m x 0,35 m dan tinggi sekurang-kurangnya 0,80 m, dan berdiri di atas beton dasar dengan ukuran 0,55 m x 0,55 m dan tinggi 0,2 m, diberi warna biru dan dilengkapi dengan marmer dan logam yang berbentuk tablet yang memuat sekurang-kurangnya nomor titik dasar teknik tersebut.

Titik dasar teknik orde 3 dibuat dengan konstruksi beton dari campuran semen, pasir dan kerikil dengan perbandingan 1 : 2 : 3 dengan diameter tulang besi 8 mm, yang besarnya sekurang-kurangnya 0,30 m x 0,30 m dan tinggi sekurang-kurangnya 0,60 m, dan berdiri di atas beton dasar dengan ukuran 0,40 m x 0,40 m dan tinggi 0,20 m, diberi warna biru dan dilengkapi dengan logam yang berbentuk tablet yang memuat sekurang-kurangnya nomor titik dasar teknik tersebut.

Titik dasar teknik orde 4 dibuat dengan konstruksi yang dapat disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

  1. Peta Dasar Teknik

Peta dasar teknik adalah peta yang memuat penyebaran titik-titik dasar teknik dalam cakupan wilayah tertentu.
Penyebaran titik-titik dasar teknik dipetakan pada peta topografi atau peta lain yang ada. Untuk titik dasar teknik lokal, penyebarannya dipetakan dalam peta skala besar yang meliputi satu wilayah desa/kelurahan. Peta yang menggambarkan penyebaran sebagai-mana dimaksud pada ayat (1) dan (2) dinamakan peta dasar teknik. Nomor lembar peta yang digunakan untuk peta dasar teknik mengikuti nomor lembar peta asalnya.

  1. Buku Tugu

Untuk titik dasar teknik orde 2, orde 3 dan orde 4 dibuatkan deskripsi, sketsa lokasi, dan foto yang menggambarkan dan menjelaskan cara pencapaian lokasi titik tersebut serta daftar koordinat yang sekurang-kurangnya memuat nilai koordinat titik dasar teknik tersebut dalam  sistem koordinat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. Deskripsi, sketsa lokasi, daftar koordinat dan foto titik dasar teknik dijilid menjadi satu dan disebut Buku Tugu.

Deskripsi, sketsa lokasi, daftar koordinat dan foto titik dasar teknik orde 2 dibuat dengan menggunakan daftar isian 100, 100A, 100B dan 100C. Deskripsi, sketsa lokasi, daftar koordinat dan foto titik dasar teknik orde 3 dibuat dengan menggunakan daftar isian 101, 101A, 101B dan 101C. Deskripsi, sketsa lokasi, daftar koordinat dan foto titik dasar teknik orde 4 dibuat dengan menggunakan daftar isian 102 dan 102A.

Tiap titik dasar teknik orde 2 dan orde 3 dibuatkan buku tugunya sebanyak 3 (tiga) rangkap yang masing-masing disimpan di Badan Pertanahan Nasional, Kantor Wilayah dan Kantor Pertanahan, sedangkan buku tugu titik dasar teknik orde 4 dibuat 1 (satu) rangkap yang disimpan di Kantor Pertanahan.

3.7Kegiatan Penyelenggaraan Pengukuran KDKN

Urutan pekerjaan pengadaan kerangka dasar pemetaan secara umum:

Peninjauan lapangan:

Pengumpulan informasi keadaaan lapangan seperti titik-titik yang sudah ada, medan dan kesampaian lapangan, administrasi teknis dan non-teknis seperti perijinan dan lain-lainnya.

Perencanaan:

  1. Bentuk kerangka, ketelitian dan penempatan serta kerapatan titik-titik kerangka,
  2. Peralatan ukur yang akan digunakan,
  3. Tata-cara pengukuran dan pencatatan yang sepadan dengan ketelitian dan cara serta alat yang digunakan,
  4. Bentuk dan bahan titik pilar dan cara pemasangannya,
  5. Jadual pelaksanaan pekerjaan termasuk jadual personil, peralatan dan logistik,
  6. Tata-laksana pekerjaan administrasi, teknis. Personil, peralatan dan logistik.

Pemasangan dan penandaan patok / pilar:

  1. Pilar dan patok dipasang agar kuat dan stabil pada tenggang waktu yang direncanakan,
  2. Lokasi pilar dan patok harus aman, stabil dan terjangkau serta mudah pengukurannya,
  3. Memasang tanda pengenal pilar dan patok,
  4. Membuat deskripsi lokasi, struktur, cara dan pelaksana pemasangan pilar.

Pengukuran:

Pengukuran dilaksanakan sesuai ketentuan yang dibuat pada perencanaan pengukuran.

Perhitungan:

  1. Menghitung dan membuat koreksi hasil ukuran,
  2. Mereduksi hasil ukuran,
  3. Menghitung data titik kontrol, misalnya azimuth,
  4. Menghitung koordinat dan ketinggian.

Bila data KDH akan dinyatakan dalam sistem proyeksi peta tertentu – misalnya UTM, maka juga harus dilakukan reduksi data ukuran ke sistem proyeksi. Hitungan koordinat dan ketinggian definitif menggunakan cara perataan sederhana – BOWDITCH misalnya, atau menggunakan cara perataan kwadrat (kesalahan) terkecil.

Menyusun daftar Koordinat dan Ketinggian:

Daftar dibuat dalam bentuk kolom yang menunjukkan nomor titik pilar, koordinat, dan ketinggian serta keterangan sistem koordinat dan rujukan ketinggian yang digunakan.


Aksi

Information

One response

16 06 2010
meutia

Adakah informasi tentang dasar hukum/peraturan peta digital. Thank’s, selamat berkarya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: